Minggu, 20 Mei 2012

evaluasi pendidikan

PENDAHULUAN


1.      Penertian Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi
Memang tidak semua orang menyadari bahwa setiap saat kita selalu melakukan pekerjaan evaluasi. Dalam beberapa kegiatan kita sehari-hari, kita jelas-jelas mengadakan pengukuran dan penilaian. Dan untuk memahami persamaan dan perbedaan ataupun hubungan dapat dipahami melalui contoh-contoh dibawah ini:
a.       Apabila ada orang yang memberikan sebatang pensil kita, dan kita disuruh memilih antara dua pensil yang tidak sama panjangnya maka  tentu kita akan memilih “panjang”.
b.      Pasar merupakan suatu tempat bertemunya orang-orang yang akan menjuan dan membeli. Sebelum menentukan menentukan barang yang akan dibelikannya, seorang pembeli akan memilih dahulu mana barang yang lebih “baik” menurut ukurannya.
Duah langka kegiatan yang dilalui sebelum mengambil barang untuk kita, itulah yang disebut mengadakan evaluasi, yakni mengukur dan menilai. Kita tidak dapat melakukan penilaian sebelum mengadakan pengukuran.
ü  Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kumulatif.
ü  Menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat kualitatif.
ü  Mengadakan evaluasi meliputi kedua langkah di atas, yaitu mengukur dan menilai.
Didalam istilah asingnya, pengukuran adalah measurement, sedangkan penilaian adalah evalusion. Dari kata evalusion inilah yang diperoleh kata indonesia yang berarti menilai ( tetapi dilakukan dengan mengukur terlebih dahulu ).
2.      Penilaian Pendidikan
Meskipun kita memiliki makna yang lebih luas, namun pada awalnya pengertian evaluasiselalu dikaitkan dengan prestasi siswa. Dalam pembelajaran yang terjadi di sekolah atau khususnya di kelas, guru adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas hasilnya. Dengan demikian, guru patut dibekali dengan evaluasi sebagai ilmu yang mendukung tugasnya, yakni mengevaluasi hasil belajar siswa. 
ü  Input
Adalah bahan mentah yang dimasukkan ke dalam transformasi.
Contoh : siswa yang baru akan masuk sekolah.
ü  Output
Adalah bahan jadi yang dihasilkan oleh transformasi.
Yang dimaksud dengan pembicaraan ini adalah lulusan sekolah yang bersangkutan.
 





                                 UNPAN BALIK

ü  Transformasi
Adalah mesin yang bertugas mengubah bahan mentah menjadi bahan jadi.

ü  Umpan balik ( feed back )
Adalah segala informasi baik yang menyangkut outpun maupun transformasi. Unpan balik ini diperlukan untuk perbaikan input maupun transformasi.

3.      Mengapa Menilai ?
Dalam dunia pendidikan, khususnya dunia persekolahan, penilaian mempunyai makna ditinjau dari berbagai segi.
a.      Makna bagi siswa
Dengan adalanya penilaian, maka siswa dapat mengetahui sejauh mana telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Hasil yang diperoleh siswa dan pekerjaan menilai ada 2 kemungkinan:
1.      Memuaskan
Jika siswa memperoleh hasil yang memuaskan dan hal itu menyenangkan, tentu kepuasan itu diperolehnya lagi pada kesempatan lain waktu.
2.      Tidak memuaskan
Jika siswa tidak puas dengan hasil yang diperolehnya,ia akan berusaha agar lain waktu keadaan itu tidak terulang lagi.
b.      Makna bagi guru
1.      Dengan hasil penilaian yang diperoleh guru akan dapat mengetahui siswa-siswa mana yang sudah berhak melanjutkan pelajarannya karena sudah berhasil menguasai bahan.
2.      Guru akan mengetahui apakah materi yang diajarkan sudah tepat bagi siswa sehingga untuk memberikan pengajaran di waktu yang akan datang tidak perlu diadakan perubahan.
3.      Guru akan mengetahui apakah metode yang digunakan sudah tepat atau belum.
c.       Makna bagi sekolah
1.      Apabila guru-guru mengadakan penilaian dan diketahui bagiamana hasil belajar siswa-siswinya, dapat diketahui pula apakah kondisi belajar yang diciptakan oleh sekolah sudah sesuai dengan harapan atau belum.
2.      Informasi dari guru tentang tepat tidak tepatnya kurikulum utuk sekolah itu dapat dipertimbangkan sebagai perencanakansekolah untuk masa-masa yang akan datang.
3.      Informasi hasil penilaian yang diperoleh dari tahun ketahun, dapat digunakan sebagai pedoman bagi sekolah.

4.      Tujuan atau Fungsi Penilaian
a.      Penilaian berfungsi selektif
Penilaian itu sendiri mempunyai berbagai tujuan, antara lain :
1)      Untuk memilih siswa yang dapat diterima disekolah tertentu.
2)      Untuk memilih siswa yang dapat naik ke kelas atau tingkat berikutnya.
3)      Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa.
4)      Untuk memilih siswa yang sudah berhak meningalkan sekolah, dan sebagainya.
b.      Penilaian berfungsi diagnostik
Apabila alat yang digunakan dalam penilaian cukup memenuhi persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan siswa.
c.       Penilaian berfungsi sebagai penempatan
Belajar sendiri dapat dilakukan dengan cara mempelajari sebuah paket belajar. Baik itu berbentuk modul ataupun paket.

d.      Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan
Fungsi keempat dari penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan.

5.      Ciri-Ciri Penilaian dalam Pendidikan
Ciri-ciri penilaian dalam pendidikan, antara lain adalah sebagai berikut:
1.      Terletak pada alat ukurnya
2.      Terletak pada orang yang melakukan penilaian
3.      Terletak pada anak yang dinilai
4.      Terletak terletak terhadap situasi penilaian berlangsung.

SUBJEK DAN SASARAN EVALUASI

1.      Subjek Evaluasi
Yang dimaksud dengan subjek evaluasi adalah orang yang melakukan evaluasi.
Contoh :
a.       Untuk melaksanakan evaluasi tentang prestasi belajar atau pencapaian maka sebagai subjek evaluasi adalah guru.
b.      Untuk melakukan evaluasi sikap menggunakan sebuah maka sebagai subjeknya dapat meminta yang ditunjuk.
c.       Untuk melaksanakan evaluasi terhadap kepribadian dimana menggunakan sebuah alat ukur yang sudah distandardisasikan maka subjeknya adalah ahli-ahli psikologi.
2.      Sasaran Evaluasi
Dengan masih menggunakan diagram tentang transformasi maka sasaran penilaian untuk unsur-unsurnya meliputi :
a.      Input
Calon siswa sebagai pribadi yang utuh, dapat ditinjau dari segi yang menghasilkan bermacam-macam bentuk tes yang digunakan sebagai alat untuk mengukur. Aspek yang bersifat Rohani setidaknya mencakup 4 hal:
1.      Kemampuan
2.      Kepribadian
3.      Sikap-sikap
4.       Dan Inteligensi
b.      Transformasi
Telah dijelaskan banyak unsur terdapat dalam tranfomasi  yang semuanya dapat menjadi sasaran atau objek penilaian demi diperoleh hasil pendidikan yang diharapkan. Unsur unsur yang dirapkan tranformasi yang menjadi objek penilaian antara lain:
-          Kurikulum / materi
-          Metode dan cara penilaian
-          Sarana pendidikan/media
-          System administrasi
-          Guru dan personal lainnya.
c.       Output
Penilaian terhadap kelulusan suatu sekolah dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tingkat pencapaian / pretasi belajar mereka selama mengikuti program dan evaluasi terhada aspek efektip.


PRINSIP DAN ALAT EVALUASI

1.      Prinsip Evaluasi
Ada prinsip umum dan penting dalam kegiatan evaluasi yaitu adanya triagulasi- atau hubungan erat tiga konponen antara lain:
(a)   Tujuan pembelajaran
(b)   Kegiatan pembelajaran atau KBM dan
(c)    evaluasi
Triangulasi tersebut dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut.
        Tujuan

                          KBM                                                       Evaluasi
2.      Alat Evaluasi
Dalam pengertian umum, alat adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah seseorang untuk melaksanakan tugas atau mencapai tujuan secara lebih efektif dan evisien..
Seperti disbutkan diatas:  ada dua teknik evaluasi, yaitu teknik nontes dan teknik tes.
a.      Teknik nontes
Yang tergolong teknik nontes adalah :
- Skala bertingkat
- Kuesioner
- Daftar cocok
- Wawancara
- Pengamatan
- Riwayat hidup
b.      Teknik tes
Tes merupakan alat pengumpulan informasi tetapi jika dibandingkan dengan alat-alat lainnya tes ini bersifat lebih resmi karena penuh dengan batasan – batasan dalam bagian ini hanya akan dibicarakan tes untuk mengukur keberhasilan siswa.
Ditinjau dari segi kegunaan untuk mengukur siswa, maka dibedakan atas adanya 3 macam tes, yaitu :
-          Tes diagnostik
-          Tes formatif
-          Tes sumatif


MASALAH TES

1.        Pengertian
Istilah tes diambil dari kata testum suatu pengertian dalam bahasa Prancis kuno yang berarti piring untuk menyisihkan logam-logam mulia. Ada pula yang mengartikan sebagai sebuah piringan yang dibuat dari tanah.
Didorong munculnya statistik dalam penganalisaan data dan informasi maka tes ini digunakan dalam berbagai bidang seperti tes kemampuan dasar,tes kelelahan perhatian, tes ingatan, tes minat, tes sikap dan sebagainya.
Sebelum jauh kepada uraian, maka diterangkan dulu arti beberapa istilah-istilah yang berhubungan dengan tes ini.
-            Tes
Alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui, mengukur sesuatu dalam suasana dengan suasana, dengan cara aturan yang ditentukan.
-            Testing
Testing merupakan saat waktu tes itu dilakukan. Dan dapat dikatakann juga pengambilan tes
-            Testee
Responden yang sedang mengerjakan tes.
-            Tester
Orang yang diserahi untuk melakukan pengambilan tes.

2.        Persyaratan Tes
Pada bagian permilaan buku itu telah disinggung bahwa mengukur panjang sesi meja dengan menggunakan karpetelastis denganukuran.sama halnya tidak mengukur. Hasil ukuran tidak dapat dipercaya.

3.        Ciri-Ciri Tes yang Baik
Sebuah tes yang dapat dikatakan baik sebagai alat pengukur harus memenuhi persyaratan tes, yaitu memiliki :
-            Validitas
-            Reliabilitas
-            Objektivitas
-            Praktikabilitas
-            Ekonomis


VALIDITAS

1.        Macam-macam Validitas
Secara garis besar ada dua macam validitas, yaitu validitas logis dan validitas empiris.
a.         Validitas logis
Istilah “validitas logis” mengandung kata “logis” berasal dari kata “logika”, yang berarti penalaran. Dengan demikian maka validitas logis untuk sebuah istrumen evaluasi menunjukan pada kondisi bagi sebuah instrument berdasarkan hasil penalaran.
Ada dua macam validitas logis yang dapat dicapai oleh sebuah instrument, yaitu : validitas isi dan validitas konstrak ( contracs voladity ). Validitas isi bagi sebuah intrumen menunjuk suatu kondisi sebuah intrumen yang disusun berdasarkan isi materi pelajaran yang dievaluasi. Validitas konstrak sebuah instrument menunjuk suatu kondisi sebuah intrumen yang disusun berdasarkan kontrak aspek-aspek kejiwaan – yang seharusnya dievaluasikan.
b.        Validitas empiris
Istilah “validitas empiris” memuat kata “empiris” yang artinya “pengalaman”. Sebuah intrumen dapat dikatakan memiliki vadilitas empiris apa bila sudah di uji dari pengalaman.. dari uraian ada dua jenis validitas yakni validitas logis, yang ada dua macam. Dan validitas empiris, juga ada dua maca maka secara umum kita mengenal empat validitas , yaitu:
(1)   Validitas isi
(2)   Validitas konstrak
(3)   Validitas “ada sekarang” dan
(4)   Validitas predictive.
2.      Cara mengetahui Validitas Alat Ukur
Teknik digunakan untuk mengetahui kesejajaran adalah teknik korelasi produk moment yang dikemukakan oleh Pearson.
Rumus korelasi product moment ada dua macam, yaitu :
a.       Text Box: rxy =  Korelasi product moment dengan simpangan.


b.      Text Box: Rxy =  Korelasi product moment dengan angka kasar.



3.        Validitas Butir Soal atau Validitas Intem
Apa yang sudah dibicarakan diatas adalah validitas soal keseluruhan tes. Pengertian umum untuk validitas adalah apabila sebuah intem dikatakan valid apabila terdapat dukungan terhadap skor total.
4.        Tes Terstandar sebagai Kriterium dalam Menentukan Validitas
Tes terstandar adalah tes yang telah dicoba berkali-kali sehingga dapat dijamin kebaikannya. Sebuah tes terstandar biasanya memiliki identitas antara lain : sudah dicoba beberapa kali dan di mana, berapa koefisien validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, daya pembeda dan lain-lain keterangan yang dianggap perlu. Cara menentukan tes soal yang menggunakan tes standart.

5.        Validitas Faktor
Selain validitas soal secar4a keseluruhan dan validitas butir atau item, masih ada lagi yang perlu diketahui validitasnya, yaitu : factor – factor atau bagian keseluruhan materi. Setiap keseluruhan materi pelajaran terdiri dari pokok-pokok bahasan atau mungkin sekelompok pokok bahasan yang merupakan satu kesatuan.



RELIABILITAS

1.      Arti Reliabilitas Bagi Sebuah Tes
Kosep tentang reabilitas ini tidak akan sulit dimengerti apabila pembaca memahami konsep valibitas. Dalam hal reabilitas tuntutannya tidak jauh berbeda. Beberapa hal yang sedikit banyak mempengaruhi hasil tes banyak sekali. Namun secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi 3 hal :
1.      Hal yang berhubungan dengan tes itu sendiri, yaitu panjang tes dan kualitas butir-butir soalnya.
2.      Hal yang berhubungan dengan tercoba (testee)
3.      Hal yang berhubungan dengan penyelenggaraan tes

2.      Cara-Cara Mencari Besarnya Reliabilitas
Untuk mengetahui ketetapan pada dasarnya dilihat kesejajaran hasil. Seperti halnya beberapa teknik juga mengunakan rumus korelasi.. Kriterium yang digunakan untuk mengetahui ketetapan ada yang berada di luar tes ( consistensy external ) dan pada tes itu sendiri( consistensy internal ).
a.       Metode bentuk parallel ( equivalent )
b.      Metode tes ulang ( test-retest method )
c.       Metode belah dua atau split-half method




TAKSONOMI

1.      Arti dan Letak Taksonomi dalam Pendidikan
Sejak lahir kurikulum PPSP yang disusul oleh lahirnya kurikukum tahun 1975,telah mulai tertanam kesadaran pada guru bahwa tujuan pengajaran harus dirumuskan sebelum proses belajar mengajar berlasung, tujuan tersebut harus dibertahukan pasa semua siswa.
Tujuan pendidikan dapat dirumuskan pada tiga tingkatan. Tujuan umum pendidikan tujuan ini mengemukakan perlunya sesuatu program diadakan.Tujuan yang didasarkan atas tingkah lakuyang dimaksud dengan toksonomi.Tujuan yang lebih jelas yang dirumuskan secara operasional.

2.      Taksonomi Bloom
Bloom dan Krathwoh telah banyak memberikan banyak inspirasi kepada banyak orang yang melahirkan taksonomi lain. Prinsip-prinsip dasar yang digunakan oleh 2 orang ini ada 4 buah,  yaitu :
1.      Prinsip metodologis
2.      Prinsip psikologis
3.      Prinsip logis
4.      Prinsip tujuan
Atas dasar prinsip ini maka taksonomi disusun menjadi suatu tingkatan yang menunjukkan tingkat kesulitan.
Secara garis besar Bloom bersama kawan-kawan merumuskan tujuan pendidikan pada tiga tingkatan yaitu:
1.      Kategori tingkahlaku yang masih verbal
2.      Perluasan kategori menjadi sederhana tujuan
3.      Tingkahlaku kongkrit yang terdiri dari tugas-tugas dan pernyataan sebagai ujian dan buitr-butir soal.
Ada 3 ranah atau domain besar, yaitu terletak pada tingkatan ke-2 yang selanjutnya disebut taksonomi yaitu :
a.       Ranah kognitif
-          Mengenal ( recogniton )
-          Pemahaman ( com prehension )
-          Penerapan atau aplikasi (applicasion )
-          Analisis ( analysis )
-          Sintesis ( synthesis )
-          Evaluasi ( evaluation )
Apabila dibandingkan akan tergambar sebagai berikut :
Struktur Hipotetis oleh Bloom
Struktur yang ditemukan oleh Medaus dkk
Evaluasi
 

Sintesis

Analisis

Aplikasi

Pemahaman

Ingatan
Evaluasi
 

Analisis     Sintesis

 


Analisis

Aplikasi

Pemahaman

Ingatan

b.      Ranah afektif
-          Pandangan atau pendapat ( opinion )
-          Sikap atau nilai ( ( atitude, value )
c.       Ranah psikomotor
Perkataan piskomotorik berhubungan dengan kata “motor”sensory motor atau prepektual – motor. Jadi, ranah psikomotor berhubungan erat dengan kerja otot sehingga menyebabkan gerakan tubuh atau bagian-bagiannya.


TUJUAN INSTRUKSIONAL

1.      Bermacam-Macam Tujuan Pendidikan
Setiap negara tentu mempunyai cita-cita tentang warga negaranya yang akan diarahkan. Cita-cita tersebut dimanifestasikan dalam bentuk tujuan pendidikannya.
Cita-cita bangsa Indonesia adalah terbentuknya manusia Pancasila bagi seluruh warga negaranya. Tujuan pendidikannya telah disejajarkan dengan cita-cita tersebut. Semua institusi atau lembaga pendidikan  harus mengarahkan segala kegiatan di sekolahnya bagi pencapaian tujuan itu. Inilah yang disebut dengan tujuan umum pendidikan yang secara eksplisit tertera di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).


2.      Tujuan Instruksional
Proses atau kegiatan mempelajari materi ini terjadi pada saat terjadinya situasi belajar mengajar ( intuksional ). Dari perkataan pengajaran atau intruksiona inilah maka timbul istilah tujuan intruksional.
Ada dua macam tujuan Instruksional yaitu :
(1)   Tujuan Instruksional Umum (TIU)
(2)   Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
3.      Merumuskan Tujuan Instruksional
Telah disebutkan bahwa tujuan Instruksional adalah tujuan yang menyatakan adanya sesuatu yang dapat dikerjakan atau dikakukan oleh siswa setelah pengajaran. Jadi sebelum adanya pengajaran, siswa tidak mempunyai kemampuan untuk mengerjakan ataupun melakukannya.

4.      Langkah-Langkah yang Dilakukan dalam Merumuskan Tujuan Instruksional Khusus.
a.       Membuat sejumlah TIU (Tujuan Instruksional Umum) untuk setiap mata pelajaran/bidang studi yang akan diajarkan.
b.      Dari masing-masing TIU dijabarkan menjadi sejumlah TIK yang rumusannya jelas, dapat diamati, terukur, dan menunjukkan perubahan tingkah laku.
5.      Tingkah Laku Akhir
Tingkah laku akhir adalah tingkah laku yang diharapkan setelah seorang mengalami proses belajar.
6.      Kata-Kata Operasional
a.      Cognitive dominan levels and corresponding action verbs.
1)      Pengetahuan ( knwledge )
2)      Pemahaman
3)      Aplikasi
4)      Analisis
5)      Sistesis
6)      Evaluasi
b.      Effektive dominan; learning levels and corresponding verbs
1)      Reesiving
2)      Responding
3)      Valuing
4)      Organization
5)      Characterization by value complekx

7.      Kondisi Demontrasi
Kondisi Demontrasi adalah komponen TIK yang menyatakan suatu kondisi atau situasi yang dikenakan kepada siswa pada saat ia mendemontrasikan tingkah laku akhir, misalnya :
-          Dengan penulisan yang betul
-          Urut dari yang paling tinggi
-          Dengan bahasanya sendiri





TES STANDAR DAN TES BUATAN GURU

1.      Pengertian Tes Standar
Telah dibicarakan di depan bahwa tes kemampuan pada dasarnya terbagi menjadi 2 macam, yaitu :
1.      Aptitude test (tes bakat),
2.      Achievement test (tes prestasi).
Perbedaan antara kedua tes ini sebenarnya tidak tegas, soal-soal mengenai kedua tes tersebut seringkali saling melingkupi(overlap). Untuk kedua macam tes ini biasanya menggunakan hitungan-hitungan dan perbendaharaan kata-kata dan sekelompok tes dari kedua macam tes ini biasanya juga menguji tentang keterampilan membaca
2.      Tes Prestasi Standar
Di antara tes prestasi yang digunakan di sekolah ada yang dinamakan tes prestasi standar. Satadart siswa dapat dimaksudkan sebagai suatu tingkat kemampuan yang harus dimiliki bagi suatu program tertentu.
3.      Perbandingan antara Tes Standar dengan Tes Buatan Guru
Tes ini disusun dalam tepi-tepi soal yang dan meliputi bahan atau pengetahuan yang sama banyak dengan bahan pengetahuan yang di cakup oleh tes buatan guru.
4.      Kegunaan Tes Standar
Secara singkat dapat dikemukakan bahwa kegunaan tes standar adalah :
a.       Jika ingin membuat perbandingan,
b.      Jika banyak orang yang akan memasuki suatu sekolah tetapi tidak tersedia data tentang calon ini.
5.      Kegunaan Tes Buatan Guru
Kegunaan tes buatan guru adalah :
a.       Untuk menunjukkan seberapa baik siswa telah menguasai bahan pelajaran yang diberikan dalam waktu tertentu.
b.      Untuk menentukan apakah sesuatu tujuan telah tercapai.
c.       Untuk memperoleh suatu nilai.
6.      Kelengkapan Tes Standar
Sebuah tes yang sudah distandardisasikan dan sudah dapat disebut sebagai tes standar, biasanya dilengkapi dengan sebuah manual.
Secara garis besar manual tes standar ini memuat :
(1)   Ciri-ciri mengenai tes:.
(2)   Tujuan serta keuntungan-keuntungan dari tes:.
(3)   Proses standardisasi tes.
(4)   Petunjuk-petunjuk tentang cara melaksanakan tes:.
(5)   Petunjuk-petunjuk bagaimana cara menskor
(6)   Petunjuk-petunjuk untuk menginterpretasikan hasil
(7)   Saran-saran lain.



 PENYUSUNAN TES


1.      Fungsi Tes
Sehubungan dengan hal-hal yang harus diingat dalam penyusunan tes,maka fungsi tes dapat ditinjau dari 3 hal :
1)      Fungsi untuk kelas,
2)      Fungsi untuk bimbingan,
3)      Fungsi untuk administrasi.
2.      Langkah-Langkah dalam Penyusunan Tas
Tentu saja setiap guru akan dengan mudah mengatakan bagian pelajaran mana yang akan dicakup dalam sebuah tes jika sudah diketahui tujuannya.
Urutan langkah yang akan dilakukan adalah :
a.       Menentukan tujuan mengadakan tes
b.      Mengadakan pembahasan terhadap bahan yang akan diteskan
c.       Merumuskan tujuan istruksional khusus dari tiap bagian bahan
d.      Menderetkan semua TIK dalam table persiapan yang memuat pula aspek tingkah laku terkandung dalam TIK itu.
e.       Menyusun tabel spesifikasi yang memuat pokok materi.
f.       Menulis butir-butir soal.
3.      Komponen –Komponen Tes
a.      Buku tes, yakni lembaran atau buku yang memuat butir-butir soal yang harus dikerjakan oleh siswa.
b.      Lembar jawaban tes, yaitu lembar yang disediakan oleh penilaian bagi test untuk mengerjakan tes.
c.       Kunci jawaban tes, berisikan jawaban-jawaban yang dikehendaki.
d.      Pedoman penilaian, pedoman penilaian atau pedoman skoring berisi keterangan perincian tentang skor atau angka yang diberikan kepada siswa bagi soal-soal yang telah dikerjakan.




TES TERTULIS UNTUK PRESTASI BELAJAR

1.      Bentuk-Bentuk Tes
Telah dibicarakan sebelum ini bahwa disekolah seringkali digunakan tes buatan guru (bukan standar dized tes). Ini disebut tes buatan guru. Tes yang dibuat oleh guru ini terutama menilai kemajuan siswa dalam hal pencapaian yang dipelajari.
a.      Tes subjektif
b.      Tes objektif

2.      Macam-Macam Tes Objektif
a.       Tes benar-salah ( true-false )
b.      Tes pilihan ganda ( multiple choice test )
c.       Menjodohkan  ( matching test )
d.      Teks isian ( completioan test )
3.      Pengukuran Ranah Afektif
Pengukuran ranah Afektif tidaklah semudah mengukur ranah kognitif. Pengukuran ranah efektif tidak dapat dilakukan setiap saat ( dalam arti pengukuran formal )  karena perubahan tingkah laku siswa tidak dapat berubah sewaktu-waktu.
4.      Pengukuran Ranah Psikimotor
Pengukuran ranah psikomotorik dilakukan terhadap hasil-halis belajar yang belajar yang berupa penampilan. Namun demikian biasanya pengukuran ranah ini disatukan atau dimulai dengan menggunakan ranah kognitif sekaligus. Misalnya penampilannya dalam menggunakan thermometer diukur mulaidari pengetahuan mereka mengenai alat tersebut, pemahaman tentang alat dan penggunaannya (aplikasi), kemudian baru cara menggunakannya dalam bentuk keterampilan. Instrumen yang digunakan dalam pengukuran adalah matriks.kebawah menyatakan perincian aspek yang akan diukur,kekanan meunjukkan besarnya skor yang dapat dicapai.

1 komentar: